Dzikir Bejo

Menjadi beruntung atau memperoleh keberuntungan merupakan harapan yang menyertai setiap usaha kita dalam mencapai tujuan tertentu. Seringkali, ketika kita sedang mengusahakan sesuatu, ada hal di luar tujuan tersebut yang kita harapkan, yaitu keberuntungan. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, persepsi kita adalah keberuntungan bak mutiara yang meski indah, tapi tak selalu ada dalam setiap kerang. Padahal, kalau kita renungi secara lebih dalam, keberuntungan bisa terjadi kepada siapa saja, dan mudah bagi kita memperoleh keberuntungan.

Kita mempunyai keinginan. Lalu keinginan berkembang menjadi tujuan yang akan kita wujudkan melalui segala macam tirakat yang dapat dilakukan. Kemudian, kita mendapat hasilnya yang kadang sesuai dengan tujuan, tapi kadang juga tidak. Wajar, bila kita berterima kasih kepada Tuhan terhadap hasil yang sesuai dengan tujuan. Manusiawi, bila kita mengeluh pada Tuhan, meski hal ini harus ditekan sekuat tenaga agar sikap kita itu tidak berkembang menjadi marah pada Tuhan. Merasa beruntung adalah perasaan istimewa yang jarang kita rasakan mengiringi setiap apapun hasil yang kita dapatkan.

Merasa beruntung, bukan hanya dapat meningkatkan rasa syukur kita pada Tuhan, tetapi juga meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Merasa beruntung merupakan kondisi psikologis saat kita merasa kepuasan yang kita dapatkan bukan sebagai akibat perbuatan kita. Kondisi psikologis berarti kondisi kebatinan kita yang berkaitan dengan hati.

Hati juga memiliki penglihatan seperti halnya mata. Bedanya, pandangan mata menghasilkan fakta-fakta yang bersifat rasional. Sedangkan, dengan pandangan hati kita mendapatkan fakta-fakta yang bersifat irrasional meski tidak diragukan kebenarannya. Alat penglihatan hati adalah iman. Kalau iman kuat, penglihatan hati kita menjadi tajam, dan begitu juga sebaliknya.

Dalam salah satu lirik lagu Bimbo yang berjudul “Sajadah Panjang”, praktek ubudiyah diibaratkan sebagai sajadah panjang. Interupsinya adalah saat-saat kita mengejar kehidupan duniawi. Kalau diibaratkan seperti itu, sudah pasti kehidupan kita lebih banyak interupsinya. Lalu, ada Budayawan lain yang memprotes lirik lagu tersebut. Budayawan tersebut beranggapan bahwa tidak ada hal apapun di dunia ini yang tidak untuk kepentingan akhirat.

Saya setuju, dan mungkin juga semua orang juga akan setuju. Tidak ada satu pun perbuatan di dunia ini yang tidak dibalas oleh Tuhan di akhirat kelak. Di akhirat kelak ada surga dan neraka. Merasa beruntung adalah sebagian dari surga yang diberikan Tuhan kepada manusia. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung. Begitu firman Tuhan dalam Al-quran surat Al-Baqarah ayat 5. Dalam tafsir Jalalain, orang-orang beruntung dimaknai sebagai orang-orang yang mendapatkan kenikmatan dari surga dan diselamatkan dari siksa neraka.

Seperti halnya anggota dhohir, bagian batin dalam diri kita juga harus melakukan ibadah-ibadah kepada Tuhan. Kita harusnya merasa beruntung mendapat kesempatan belajar di pondok pesantren yang tidak hanya menekankan praktek ibadah yang bersifat dhohir, tetapi juga mengutamakan ibadah yang bersifat batin. Dzikir, merupakan amalan hati yang bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tidak ada batasan orang yang melakukan dzikir, baik sudah berwudlu ataupun belum. Dzikir, dapat kita lakukan sambil bekerja, sambil kuliah, atau aktivitas apapun.

Sebelum menjadi orang yang beruntung, kita harus pandai menjadi orang “Bejo”, yaitu Belajar noto JiwO. Pekerjaan utama orang “Bejo” adalah menata hati, mempertajam pikiran, dan mempersholih amal. Amar ma’ruf nahi munkar kita upayakan dengan semaksimal mungkin.

Faktor dzikir itulah yang nantinya akan menentukan keberuntungan kita saat melakukan sesuatu. Agama bukan bidang keahlian. Tapi agama adalah kehidupan. Segala aspek kehidupan, kita upayakan semaksimal mungkin sesuai dengan aturan agama. Kalau perilaku kita sudah sesuai dengan syariat islam, kita tidak perlu lagi membentuk Negara Islam, bukan? J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s