Isra’ Mi’raj dan Perjalanan

Beberapa hari yang lalu, kami membuat majalah dinding untuk lomba dalam rangka Haflatul Imtihan Di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Malang. Salah satu tulisannya berikut ini.

Akhirnya kita berjumpa kembali dalam mading el-quds setelah sekian lama tidak terbit. Selamat datang bagi para santri baru. Semoga kalian betah tinggal di pondok meskipun banyaknya kesibukan yang datang dan pergi sesuka hati. Menjadi santri, akan menjadi pengalaman berharga kelak dan menjadi kenangan yang tak mungkin terlupakan. Dalam pengalaman itu, kita akan menjumpai banyak keseruan dan pelajaran yang berharga.

Pengalaman adalah guru terbaik. Dan ibu kandung pengalaman adalah perjalanan. Setiap perjalanan akan melahirkan berbagai macam pengalaman. Pengalaman perjalanan akan menjadi hikmah, baik bagi si pejalan maupun orang yang mendengarnya. Dan inilah tampaknya menjadi salah satu tema dalam perjalanan Isra’ Mi’raj Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau menempuh perjalanan yang luar biasa dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus 7 lapisan langit dan akhirnya bertemu dengan Allah SWT. Perjalanan ini menjadi dambaan setiap orang-orang mukmin. Sekembalinya dari perjalanan Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW berbagi pengalaman dengan para Sahabat dan orang-orang di sekitarnya.

Perjalanan ada yang dilakukan secara fisik dan ada pula yang terjadi secara ruhani. Mengunjungi gunung, pantai, dan tempat-tempat wisata lainnya, merupakan contoh perjalanan fisik. Terkadang, dalam perjalanan fisik dibutuhkan kekuatan tekad dan tenaga. Butuh perjuangan untuk mendaki gunung, misalnya, atau menembus hutan agar sampai ke suatu pantai dengan keindahan luar biasa.

Pernahkah setelah kita membaca Al-Quran atau berdzikir, hati merasa puas dan tenang? Itu menandakan bahwa hati kita telah melakukan perjalanan secara ruhani. Membaca Al-Quran dan berdzikir merupakan contoh perjalanan ruhani. Perlu kesiapan hati dan konsentrasi yang baik agar pengalaman ruhani dapat kita peroleh. Oleh karena itu, kita bisa mencoba semampu kita sambil terus berlatih.

Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad mengandung pelajaran dan hikmah yang begitu luas. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 1, “Mahasuci Dzat yang telah memperjalankan hamba-Nya di waktu malam dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa yang diberkahi sekelilingnya supaya memperlihatkan tanda-tanda (kebesaran)- Nya, Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” Perjalanan yang paling agung adalah perjalanan yang dilakukan oleh seorang hamba yang selalu mensucikan setiap perilaku dan perkataannya. Setiap penglihatannya hanya digunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Tidak ada satu pun dari perbuatannya, kecuali keberkahan dan kebaikan bagi yang ada di sekitarnya. Semoga kita sedang dalam perjalanan yang baik.

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s