Pernikahan dan Senyum Dini

Dulu, entah tahun berapa, ada tayangan sinetron yang berjudul “Pernikahan Dini” yang, kalau tidak salah dibintangi oleh Desi Ratnasari. Seingat saya, kisah “Pernikahan Dini” tidak ada hubungannya dengan fenomena pernikahan seseorang yang masih dianggap dini, tetapi menceritakan kisah mahligai pernikahan seorang tokoh “Dini” yang diperankan oleh Desi Ratnasari. Mungkin judul sinetron itu diambil dari fenomena banyaknya orang yang menikah, padahal usianya masih dianggap dini, atau lebih umumnya setelah lulus SD atau SMP, seseorang sudah menikah.
Saat itu, anggapan banyak anak, banyak rezeki masih umum berlaku di kalangan masyarakat. Tak heran, orang-orang terdahulu mempunyai anak yang relatif banyak jika dibandingkan dengan keluarga sekarang. Saking banyaknya, karena kuatir terjadi ledakan penduduk, dicanangkanlah program Keluarga Berencana dengan slogan Dua Anak Cukup. Anak-anak sekolah sangat akrab dengan program ini, karena para guru saat itu, sangat aktif dalam mempromosikan program Keluarga Berencana.
Pernikahan dini, atau pernikahan seseorang yang dianggap masih dini, mengandung penilaian yang sebenarnya sangat relatif. Menanggapi penikahan seseorang yang masih berusia 18-19 tahun yang baru lulus SMA, beberapa orang berpendapat, usia tersebut masih terlalu dini untuk menikah, apalagi masih ada kesempatan untuk kuliah atau menempuh pendidikan lebih lanjut. Rentang usia tersebut masih terlalu belia untuk menjalani kehidupan berkeluarga.
Beberapa orang yang lain, berpendapat bahwa rentang usia tersebut sudah cukup memadai untuk menjalani kehidupan berkeluarga. Kuliah atau tingkat pendidikan yang lebih tinggi, bukan indikator mutlak mampu-tidaknya seseorang menjalani kehidupan keluarga, apalagi berkaitan dengan masalah ekonomi di masa depan. Yang penting dasar-dasar keilmuan sudah diperoleh, kemudian pendidikan lebih lanjut bisa sambil dijalani.
Dasar adanya perbedaan kedua pendapat tersebut, sebenarnya cukup kompleks dan rumit. Paradigma usia menentukan kedewasaan, tingkat pendidikan mempengaruhi intelektual, dan sebagainya, merupakan persepsi yang relatif. Pencapaian seseorang berbeda dalam hal tingkat intelektual, kematangan spiritual, dan kedewasaan emosional. Hal ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Dan juga, kebutuhan tiap pasangan dalam membentuk suatu keluarga juga berbeda-beda.
Tentu, perbedaan pendapat ini hanya untuk orang-orang yang tidak sedang mengalami pernikahan. Yang menikah, ya senyum-senyum saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s