Ceramah dan Pendengarnya

Selama bulan Ramadhan seperti saat ini, berbagai ceramah agama bertebaran di mana-mana. Masjid-masjid, surau, media televisi, radio, sampai media sosial, turut meramaikan nuansa Ramadhan dengan pengajian-pengajian agama. Metodenya pun bervariasi, mulai dari ceramah, diskusi panel, tanya-jawab, sampai pengajian ala pesantren dimana seorang kyai atau ustad membacakan suatu kitab klasik karya Ulama di antara para santri atau yang mengikuti pengajian tersebut. Sungguh, suasana ini membahagiakan, terutama bagi saya, di sela-sela hiruk pikuk sebelas bulan yang lain.
Namun, ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya. Tak jarang, peserta tidak menyimak pengajian secara tidak fokus. Tadi sore, saya secara tidak sengaja menyimak suatu pengajian di salah satu stasiun radio. Saya paling suka pengajian apalagi jika kontennya berbeda dengan yang saya tahu. Metode pengajiannya, seorang pemateri mengulas tentang tema kajian. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab melalui saluran telepon. Saya hanya mengikuti bagian akhir dari pengajian tersebut, yang kalau tidak salah tentang keutamaan bulan Ramadhan. Dan yang menarik adalah pada bagian sesi tanya jawab.
Ada beberapa karakteristik konten dakwah yang hampir kita bisa tahu pertanyaan apa yang akan muncul di sesi tanya jawab. Salah seorang penelpon bertanya tentang boleh-tidaknya melakukan ini itu, yang perbuatan itu bisa ada di luar bulan Ramadhan (padahal konten ceramahnya tentang keutamaan bulan Ramadhan, hehehe). Saya tidak tertarik dengan apa jawaban dan bagaimana jawaban atas pertanyaan itu, melainkan mengapa audien bertanya pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saya menduga (benar-tidaknya saya tidak tahu), audien sudah menyiapkan pertanyaan selama atau sebelum ceramah berlangsung. Karena seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, konten pertanyaan tidak berkaitan dengan konten ceramah. Misalnya, seorang ibu bertanya tentang rebu wekasan, setelah pemateri menyampaikan keutamaan bulan Ramadhan. Kalau kita mengikuti ceramah itu secara cermat, kok rasanya tidak ada sebersit pikiran tentang rebu wekasan.
Sudah selayaknya kita sebagai audien suatu pengajian atau ceramah apa pun, memperhatikan dengan baik apa yang disampaikan oleh pembicara. Itulah cara kita untuk menghargai suatu forum. Namun itu bisa jadi hanya dilakukan jika memang topik dalam forum itu dibatasi. Tapi kalau memang tidak dibatasi dan masing-masing orang bisa bertanya atau berbicara apa saja, ya boleh lah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s