Chemistry, what will it becomes?

Salah satu kegiatan dalam rangkaian program pendidikan profesi guru di Universitas Nusa Cendana, Kupang, yaitu kegiatan PPL. Saya saat itu mendapat penempatan PPL di SMA Negeri 3 Kupang, salah satu sekolah menjadi favorit di sana. Wujud pelaksanaan kegiatan PPL adalah pengalaman mengajar langsung di kelas.
Saya saat itu mengajar kimia dengan rasa pesimis. Berdasarkan pengalaman mengajar sebelumnya, yaitu di Malang dan Pegunungan Bintang, Papua dan pengamatan saya bagaimana ilmu kimia dipelajari, saya bahkan sampai berpikir buat apa belajar ilmu kimia, kalau hanya sekedar belajar untuk persiapan ujian atau seleksi di berbagai perguruan tinggi. Saya saja yang punya pemikiran nyeleneh.
Ditinjau dari sisi pragmatis beberapa pelajar SMA, memang hanya sedikit beberapa di antara mereka yang mempunyai minat terhadap kimia dan intensitas belajar yang lebih tinggi. Saya berusaha mendekatkan konsep kimia dengan memberi contoh fenomena aktual yang sering mereka temui, seperti memasak mie instan (dan akhirnya mereka pun tertawa karena dianggap absurd) dan beberapa contoh lain. Ini masih sekedar contoh fenomena, lantas bagaimana jika mereka ditunjukkan tentang aktualisasi kimia dalam kehidupan sosial maupun psikologi.
Sejak dahulu kimia dikenal sebagai The Central of Science. Untuk mengetahui suatu ilmu sampai ke akar-akarnya, dibutuhkan cara berpikir yang radikal. Teori, hukum, dan postulat dalam fisika dan kimia, telah menjadi dogma yang harus diikuti sehingga apapun yang kita dapatkan dapat terverifikasi dengan baik. Padahal, menurut Al Ghazali, taklid (apalagi sampai berlebihan) dapat menutup saluran kebenaran yang hakiki terhadap sesuatu dan menjadi penghalang untuk mencapai kebenaran.
Kimia, adalah cabang sains yang paling muda diantara cabang-cabang sains yang lain. Mungkin sebenarnya tidak juga, karena konsep-konsep kimia telah dikaji meskipun belum tersistematisasi dengan baik. Kimiawan sebelumnya bukan dikenal sebagai chemist di masa sekarang tetapi sebagai alchemy di masa lampau. Karena posisi alchemy saat itu bukan tergolong sebagai salah satu scientist melainkan sebagai (mungkin istilahnya dan akan saya dalami lebih lanjut) wizard, Jabir Ibn Hayyan tidak termasuk dalam kajian kimia saat ini.
Saat mengajar kimia di beberapa tempat, saya berusaha menggunakan scientific method atau approach seperti yang sudah diamanatkan oleh kurikulum (2013 dan revisinya pada tahun 2016). Pendekatan seperti ini berusaha untuk mengaktifkan sistem kognisi peserta didik sehingga mereka dapat menggali pengetahuannya sendiri. Banyak strategi yang bisa digunakan seperti problem based learning, discovery learning, dan lain-lain. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu kita amati lebih lanjut mengenai penerapan strategi tersebut dengan bagaimana kimia dipelajari di masa lalu (berkaitan dengan pendekatan filosofis ilmuwan yang menekuni kimia)
Jika Anda guru kimia, coba Anda terapkan salah satu strategi di atas dalam pembelajaran di kelas. Akan ada banyak pertanyaan dari peserta didik muncul saat pembelajaran. Problemnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul akan memperluas pembahasan dalam kelas. Padahal saat mengajar, kita “hanya” berkewajiban menyampaikan materi sesuai dengan rencana pembelajaran hari itu. Pertanyaan-pertanyaan itu benar akan tetapi tidak sesuai dengan konteks materi saat itu. Misalnya, saat pembelajaran larutan elektrolit. Mungkin pertanyaan yang muncul saat itu, bisa sampai pembahasan ikatan kimia. Dan inilah menjadi titik dilema saya saat itu. Meskipun peserta didik belum belajar tentang kimia lebih lanjut, namun jika secara insting naluri rasa ingin tahunya kita biarkan berkembang, maka pertanyaan-pertanyaan yang muncul akan bisa mencakup konsep apa saja dalam kajian kimia.
Ilmu kimia dikembangkan akibat adanya perubahan zat dari satu menjadi zat lain yang bisa jadi mempunyai karakteristik yang berbeda. Perubahan ini dinamakan dengan perubahan kimia. Sejak manusia mampu mengolah beberapa zat, seperti dalam pengolahan logam, sintesis senyawa baru, maka diperlukan suatu kajian khusus yang mempelajari hal ini yaitu kimia. Banyak penemuan bersifat serendipitous tanpa ada hipotesis sebelumnya. Dalam beberapa kajian filsifat kimia terakhir, perkembangan fenomenologi dan studi kasus terhadap suatu eksperimen lebih pesat sebelumnya. Beberapa ilmuwan dan ahli filsafat terakhir menunjukkan usaha mereka dalam menemukan kedudukan dan kontribusi kimia dalam perkembangan sains.
Saya rasa siswa-siswa SMA yang saya ceritakan di atas juga telah memulainya. Meskipun nantinya terbentur dengan tujuan instruksional pembelajaran saat itu, naluri rasa ingin tahu secara instingtif perlu tetap dijaga karena memang seperti itulah konsep-konsep kimia pada awalnya.
Seperti yang dikemukakan oleh salah seorang mahasiswa yang dalam suatu jurnal Chemistry Education Research and Practice, “Chemistry is like life because life always developing with experience, and research. Chemistry is like this too. It has constantly developed with the experienced gained from past to present.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s