Saya Mencontek

Menjelang tidur, saya tiba-tiba teringat dua kawan saya waktu masih duduk di bangku SD dan saat itu saya masih kelas 4. Seorang diantaranya seorang cina yang beragama Nasrani (entah Katolik atau Protestan, saya tak terpikirkan menanyakannya saat itu dan yang lainnya beragama islam. Keduanya sama-sama berasal dari keluarga yang kaya. Berbeda dengan saya. Kami bertiga duduk di satu kursi panjang di pojok paling belakang kelas. Sekolah saya saat itu adalah sekolah favorit di kecamatan sehingga banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di sana. Karena itulah, sering sekolah saya itu overload murid.
Karena status favorit, kami dituntut lebih dibandingkan murid-murid di sekolah lain. Lebih di sini dalam arti nilai-nilai kami harus lebih baik dan kemampuan akademik yang lebih tinggi. Suasana persaingan pun lebih terasa daripada suasana bermain. Saya, adalah salah satu murid pindahan dari sekolah lain. Di sekolah sebelumnya, menjadi juara kelas bukan hal sulit. Meskipun, para guru di sekolah sebelumnya “terlalu mudah” memuji anak didiknya yang nilainya baik, saya lebih suka suasana bermainnya.
Di sekolah kedua, akibat mendapat nilai jelek bukan sesuatu yang mudah diterima. Apalagi bagi kami yang saat itu berusia sekitar 11 tahun. Selain sepulang sekolah dimarahi ayah-ibu, belum lagi rasa malu dengan teman-teman sekelas. Belum lagi kalau misalnya tidak mengerjakan PR. Pernah suatu ketika salah seorang teman saya menangis di kelas gara-gara tidak mengerjakan PR. Dia dihukum dicubit oleh teman-teman sekelas. Memang, kami tidak akan mencubitnya dengan keras. Tapi, tanpa sadar kami mencubitnya dengan senyum atau malah tertawa. Pada akhir saya sadar bahwa perbuatan seperti itu tidak baik, terutama bagi kondisi psikologisnya.
Demi mendapatkan nilai yang baik, segala cara dilakukan. Kami bertiga, yang duduk dibangku paling belakang, punya kesempatan yang lebih menguntungkan. Kami saling mencontek saat ulangan harian. Kedua teman saya, mencontek jawaban saya sehingga sama persis. Saya pun tidak mau rugi. Saya meminta imbalan. Biasanya mereka memberi saya uang atau mainan. Karena jawaban kami sama persis, nilainya pun sama. Siapa yang memberi paling banyak, dia mendapat nilai paling tinggi. Karena nilai yang kami dapat harus kami bedakan agar tidak dicurigai.
Sekarang, apa yang saya lakukan saat itu bisa dianggap matre, perhitungan, tidak setia kawan, dan sebagainya. Lah, wong saya beri itu jawaban kok, bukan saya mengajari dia. Itu kan sama saja dengan plagiasi sewaktu kuliah.
Persoalan contek-mencontek seperti ini bisa berkembang menjadi suatu hal yang lebih luas. Kita jadi semakin tak menghargai hak cipta seseorang. Di awal kita memberi contekan dengan sukarela atau karena alasan solidaritas atau kesetiakawanan. Yang mencontek tidak berpikir kemungkinan bahwa itu hasil dari usaha yang tidak mudah. Hal seperti menjadi berbuntut panjang. Mencontek lalu copy-paste sampai plagiasi. Banyak diantara mahasiswa yang menjadi kontraproduktif. Menjiplak tidak sama dengan mengutip.
Ini masih tentang menjiplak yang menghasilkan jiplakan atau hasil contekan. Belum lagi tentang bagaimana anggapan bahwa itu menjadi miliknya. Kalau masih berupa selembar kertas atau sebuah buku. Bagaimana kalau yang dijiplak itu berupa kalimat atau semacam quote.
Bisa jadi kalimat quote tersebut semacam penegasan terhadap apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Dia tahu tapi tak bisa mengungkapkan. Ini berbeda sama sekali dengan tidak tahu lalu berkata seakan-akan dialah yang berkata. Sedangkan yang dikatakannya adalah perkataan orang lain tapi dia sendiri tidak mengerti.
Di era media sosial seperti sekarang mungkin sama seperti keadaan sekolah saya dulu. Kita dituntut untuk menjadi pintar sedangkan pengetahuan kita hampir diukur melalui ijazah. Kita sedang dinilai oleh persepsi umum, pendapat mainstream, dan dominansi mayoritas media sosial. Sedangkan jika tidak mengerjakan PR yaitu tuntutan untuk menjadi “terlihat” pintar akan dihukum oleh “murid-murid” pengguna media sosial. Kita jadi gampang mengutip, sharing, seakan itu kalimat kita sendiri.
Jadi, apakah saya orangnya matre?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s